SEBUAH PENGALAMAN PRIBADI.
Memasuki usia 49, saya sudah mengalami gangguan Menstruasi. Sebetulnya agak was was juga, tapi banyak yang bilang itu biasa dialami wanita seusia saya.
Awal tahun 2009, saya melakukan MEDICAL CHECK UP. dan Dokter yang memeriksa saya menemukan sedikit ketidak wajaran, yaitu perut bagian bawah saya agak mengeras. Meski saya tidak merasakan keluhan apa apa, saya merasa takut juga..sehingga saya minta dirujuk ke Dr kandungan untuk di USG. Hasil USG perut saya bersih tdk ada Kista maupun Miom yang bersarang di rahimku.
Tentu sangat melegakan bagi saya dan keluarga saya, terutama Suami dan anak anak saya, karena saya bebas penyakit yang banyak bersarang di rahim wanita tersebut.
10 bulan setelah itu, saya periksa ke dokter lagi, dan ditemukan lagi kekerasan di perut saya yang tidak wajar. Saya lalu di rujuk ke Dokter Radiologi dan di foto berkali kali, dan hasilnya DIDUGA ada kista dibawah perut saya dekat kandung kemih.
Dokter masih ragu, apakah itu kista atau kencing yang belum bisa keluar. Krn dalam foto itu hampir sama. Saya disarankan ke dokter kandungan untuk di USG lagi dan kalau perlu di kateter untuk menghabiskan semua sisa urin yg ada, supaya jelas penyakitnya.
Dengan hati yang tidak karuan ( karena jujur saya sangat takut dengan dokter, obat atau jarum suntik, apalagi klu harus operasi..), saya berangkat ke dokter kandungan lagi untuk USG, ditemani seorang teman baik, saya gemetaran menunggu hasil USG nya. Namun hasil nya dokter
kandungan juga masih ragu kalau itu kista.
Saya disuruh menunggu 2 Minggu, kalau setelah 2 Minggu gambar nya masih begitu, berarti saya memang ada kista dan harus operasi, karena ukuran nya sudah antara 8 sampai 10 cm.
Dua Minggu sudah berlalu, dan waktunya saya periksa ke dokter kandungan. Hasil USG tetap ada gambar hitam di perut saya. Akhirnya dokter memastikan itu kista. Namun ketika saya tanya, apakah dokter sudah yakin kalau itu kista? Dokternya terdiam sejenak, lalu berkata " untuk
menghilangkan keraguan, maka nanti sebelum di oprasi, ibu saya kateter lagi dan di USG lagi"
Tentu jawaban ini tdk memuaskan saya. Tapi karena saya panik, dan sedih luar biasa serta
sangat terkejut, maka tanpa pikir panjang, bahkan tanpa diskusi dengan suami dan anak anak
saya, saya menandatangi persetujuan oprasi. Dan dijadwalkan 2 Minggu lagi, yaitu sekitar awal
bulan Desember 2009.
Dengan berurai airmata, saya pulang ke rumah. Dimana anak saya dan suami saya sudah menunggu. saya tidak bisa banyak bicara, hanya bilang kalau dua Minggu lagi aku operasi kista.
Tentu mereka sangat terkejut...dan memprotes, kenapa untuk urusan yang begitu besar saya tidak berdiskusi dulu dengan keluarga? Anak saya juga menambahkan, apa sudah tidak ada jalan lain Kan belum mencoba jalan lain...! Siapa tahu itu bukan kista, karena dokternya kan juga belum yakin
Singkat cerita, saya membatalkan operasi tersebut, dan beralih mencari alternatif lain, yaitu akupuntur, pijat refleksi, dan minum berbagai jamu yang sangat pahit untuk menghilangkan kista.
Usaha yang sangat keras, dan disertai doa yang tak pernah putus dari seluruh keluarga, ternyata tidak mampu menghindarkan saya dari meja operasi.
Setelah waktu berjalan hampir 8 bulan, perut saya makin keras, dan ada rasa mual. Semula saya kira maag saya kambuh, tapi setelah minum obat kok tidak hilang juga jualnya.
Saya lalu periksa ke dokter, dan disimpulkan mungkin karena kista saya sudah besar dan menekan hati saya, sehingga saya merasa mual.
Saya mencari dokter kenalan saya yang lain, kebetulan pemimpin sebuah RS Pemerintah. Dan beliau adalah spesialis Dalam. Saya diperiksa dan beliau menyimpulkan ada tumor namun tidak ganas kalau dilihat dari ciri cirinya. Beliau menyarankan segera di CT SCAN, untuk memastikan
penyakitnya.
Hasil CT SCAN menunjukkan bahwa ada KISTA yang cukup besar berukuran 233x101x210. Yang dalam istilah kedokteran disebut TERATOMA OMENTAL Cyst. ( Tumor di Indung Telor).
Setengah tidak percaya, saya menerima hasil CT SCAN saya, dan tentu hati saya seperti di hantam palu. Bagaimana tidak? Dengan ukuran begitu besar, Bgm saya masih bisa beraktifitas normal dan tidak mengeluh sakit sama sekali, kecuali mual dan perut keras.?
Akhir nya saya kembali ke dokter kandungan saya, karena kebetulan beliau adalah dokter kandungan dengan spesialis indung telor.
Dengan menahan malu, saya kembali periksa ke dokter kandungan, dan beliau mengatakan HARUS DIOPERASI secepatnya. Tentu saya setuju, karena kedatangan saya memang untuk menjadwalkan oprasi, tapi yang sangat tidak saya perhitungkan adalah VONIS dokter, bahwa sesuai dengan SOP kedokteran, karena usia saya yang sudah diatas 40 tahun, maka RAHIM HARUS JUGA DIANGKAT?
Rasanya ada petir yang sangat keras menimpa saya. Saya seperti tersengat aliran listrik yang sangat kuat, tangan saya dingiiin...keringat bercucuran, meski saya sudah tidak menginginkan anak lagi, namun saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa RAHIM. Dan mitos yang berkembang selama ini tentang bagaimana wanita yang tidak punya rahim lagi, membuat aku sedih luar biasa.
Dengan mulut gemetar, saya minta ijin ke dokter untuk menelpon suami saya, agar tahu penjelasan langsung dari dokter. Suamiku akhirnya datang...menghadap dokter, dan aku tak berani memandang nya, takut airmata akan bercucuran, dan saya tdk bisa bicara dengan baik.
Selama dokter menjelaskan ke suami saya, pikiran saya berkelana kemana mana, saya sudah merasa seperti perempuan cacat, dan jujur saat itu aku begitu minder melihat suami saya....! Aku lihat suamiku sangat sedih ..dia menggenggam tangan saya, dan saya Alhamdulillah masih bisa tersenyum, dan membuat keputusan untuk oprasi tanggal 18 Nopember 2010.
Sesampai di rumah, saya berpelukan denga suami saya, tanpa ada kata kata, Hanya isakan kecil yang menandakan aku sangat bersedih dan menangis.
Saya sangat terpukul, dan selama 3 hari mengurung diri dilamar, dan tidak mau berkomunikasi denga orang luar, kecuali anak anak dan suami.
Untunglah saya tidak terus terpuruk, saya bangkit dan berusaha mencari info tentang penyakit ini.saya Telpon semua teman yang pernah oprasi pengangkatan Rahim. Saya diskusi dengan semua dokter yang saya kenal baik. Dan saya mencari informasi di Internet, tentang kasus seperti saya, dan pengalaman orang yang sudah diangkat rahimnya.
Ternyata usaha saya tidak sia sia...! Aku dapat manfaat dari kegigihanku mencari second opinion. APAKAH ITU?
~~~~~BERSAMBUNG ~~~~~ di DETIK DETIK MENJALANI OPRASI.
Mba ira, akhirnya jadi menjalankan operasi pengangkatan rahim? Trims.
BalasHapusApa efectnya sampai saat ini? Saya mengalami hal yg sama.bagaimana kehidupan anda sesudah operasi?
BalasHapusterima kasih mbak sudah berbagai informasnya dan izin share untuk memberitahu penderita lainnya bahwa bukan hanya dirinya yang menderita penyakit tersebut dan mudah-mudahan bisa membangkitkan semangatnya !
BalasHapuspengobatan kista secara alami
BalasHapus